Takana Jo Urang Baso

Suasana asrama pas mati lampu

Originally uploaded by larasati_mbunpagi

Ondeee… mak, takana jo urang (teringat dengan orang) di kampung Baso. Desa Baso, Kecamatan Ampek Angkek adalah tempat di mana saya menghabiskan waktu empat bulan mempelajari bordir khas Bukittinggi yang dipopulerkan oleh Hj. Rosma. Bumi yang asri, bersih, jauh dari peradaban (30 menit berkendara ke pusat kota Bukittinggi), merupakan tempat yang sangat berkesan. Penduduk yang ramah, taat akan agama dan adat itu memang jauh sekali daripada manusia kota yang lebih individualis, acuh tak acuh akan kehidupan sekitar.

Terkenang lagi masa empat bulan itu, saat kami para gadis pembordir tidur bagai ikan asin dijejer dibawah terik mentari; tidur bersebelahan di asrama yang terletak tepat dia tas ruang jahit. Udara yang dingin tidak mengurangikehangatan rasa persahabatan yang dibagi bersama sesama penghuni asrama… indahnya saat-saat itu…

Suatu hari aku akan kembali ke sana, bernostalgia dan mendokumentasikan berbagai kerajinan Sumatera Barat yang terkenal apik, beragam dan berwana cerah. Mulai dari Padang, Pariaman, Payakumbuh hingga Bukittinggi… tempat yang dulu tak sempat dijelajahi…

Suatu saat, pasti!

Miss you all: Mami, Datuk, Bu Tis, Ate, Kak Ses, Kak Elvi (happy married!), Mbak Yuli n baso super ueenaknya; Anum, Lisa, Yen, Elma, anak2 pekanbaru and jambi 2007-2008… all of you!

Advertisements
This entry was published on August 13, 2010 at 3:57 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: